Rabu, 25 November 2015

AYAH

Diposting oleh Nanda Choiru Nisaa di 08.30 0 komentar

Novel 'Ayah' Andrea Hirata


Judul                 : Ayah
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit          : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2015
Tebal                 : 412 Halaman

Sabari, Tamat, dan Ukun adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Tetap saja dalam persahabatan ada perbedaan-perbedaan yang membuat mereka menjadi semakin akrab dan seperti keluarga. Seperti halnya dalam masalah pelajaran, Tamat dan Ukun selalu bersaing untuk menghindari rangking terbawah, sementara Sabari melenggang mulus diperingkat atas. Ibarat langit dengan bumi. Namun dalam hal cinta, Tamat dan Ukun (kecil) mempunyai selera yang sama. Sudah banyak gadis disukainya, hanya sebatas suka. Sedangkan Sabari tidak pernah sekalipun ingin merasakan apa itu cinta. Dia selalu menganggap orang yang jatuh cinta itu sudah gila.

Alur cerita menjadi lebih menarik tatkala Sabari mulai merasakan cinta kepada salah satu gadis tercantik Marlena. Hanya saja, semakin dia mengejar; semakin menjauhlah cintanya tersebut. Perjuangan untuk mengejar cinta sejatinya tidak pernah sedikitpun goyah. Walau dia tahu semakin dia mencintai, selama itu juga dia akan tersakiti. Sebuah romantisme cinta yang tidak kalah hebat dengan cerita Romeo dan Juliet.

Sudut pandang cinta membuat cerita di novel ini bergairah. Perjuangan Sabari untuk mendapatkan Marlena akhirnya terbayar sudah. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. Zorro, itulah panggilan bayi mungil nan mempesona. Tidak berhenti di sana, Sabari akhirnya merasakan getirnya hidup. Ditinggal seorang istri yang menikah dengan orang lain, kemudian mengasuh anak dari kecil hingga berumur hampir tiga tahun. Dan mendengar ucapan pertama dari si kecil dengan sebutan “aya”. Setelah beranjak umur tiga tahun, Zorro kecil diambil paksa sang istri (Lena) untuk hidup dengannya. Kehidupan Lena tak jauh beda, jika Sabari menderita dan depresi karena ditinggal Lena dan Zorro. Lena sendiri melalui hidup dengan getir karena menikah beberapa kali, dan selalu kandas karena suaminya berselingkuh.

Tulisan novel ini benar-benar mengagumkan. Bahasa yang mendayu-dayu dan membuat kadang kita tersenyum, terbahak, sedih, geram, dan meneteskan air mata. Bahasa penuh sastra disajikan oleh penulis di dalam novel ini. Hampir setiap bab terdapat puisi-puisi yang mendayu-dayu penuh makna. Beberapa kutipan puisi ataupun kalimat yang ada di dalam novel ini;


Pesan Moral


Pesan moral yang dapat saya ambil dalam novel ‘Ayah’ ini adalah tentang rasa sayang seorang ayah terhadap anaknya yang tidak pernah pudar. Seorang ayah dalam novel ini adalah Sabari dan anaknya, Zorro alias Amiru.
Sekiranya ada beberapa gambaran pesan moral dari novel ini, yang pertama adalah ketika Sabari rela meninggalkan pekerjaannya demi untuk fokus merawat Zorro yang masih balita, karena sabari harus berperan ganda sebagai ayah serta ibu untuk Zorro.
Sedangkan yang kedua adalah saat Sabari resmi bercerai dengan isterinya sehingga terjadi perselisihan hak asuh, Sabari berkata kepada Marlena (mantan isterinya) “Marlena boleh kawin dengan dealer vespa, dengan pembalap vespa, dengan pencuri vespa, dengan orang yang pernah ditabrak vespa, bahkan dengan penemu vespa. Marlena juga boleh mengambil rumahku, tanahku, warungku, sepedaku, semuanya. Asal kau tidak menggambil Zorro dariku.”
Dapat disimpulkan bahwa seorang ayah rela kehilangan segalanya, bahkan kehilangan isterinya sekalipun asalkan tidak kehilangan anaknya.

Pesan lain di novel ini adalah tentang sebuah persahabatan dan kekonyolan. Tentu tali persahabatan ini tidak lepas dari Sabari, Tamat, dan Ukun. Sewaktu masih SMA, mereka bertingkah aneh, berbuat onar bersama. Dan menjadikan hidup mereka penuh dengan dramatic tersendiri. Persahabatan yang paada akhrinya membuat Tamat dan Ukun reka mengelilingi Sumatera untuk mencari Zorro dan Lena agar temannya (Sabari) tidak menjadi gila. Bermodalkan tekad, dan surat-surat dari temannya serta sahabat pena Lena, kedua sabahat itu menginjakkan kaki dari Aceh sampai ujung terjauh Sumatera. Harapan mereka adalah ingin sahabatnya kebali seperti waktu masih muda. kembali cerita seperti dulu lagi.

Ada juga sebuah semangat yang tidak terlupakan. Semangat perjuangan Izmi yang selalu terinsiprasi dari Sabari. Dia terinspirasi dengan semangat sahabatnya yang tidak kenal lelah. Walau sudah puluhan kali cintanya ditolak Lena, namun Sabari terus mengejar dan mengungkapkan cintanya di manapun dia berada. Izmi mencoba berjuang seperti Sabari, namun dia berjuang untuk bisa naik kelas dan rapor-nya tidak ada nilai yang berwarna merah.

Di antara semua itu, pesan yang paling mencolok adalah tentang arti sebuah keluarga. Di mana Sabari yang selalu mendambakan Zorro agar datang dipelukannya. Berkumpul dengannya, dan melalui hidup seperti orang lainnya. Menjadi ayah dan anaknya, dan mengajari anaknya untuk menjadi sosok yang bisa dibanggakan. Segala pengorbanan sudah dia lakukan untuk cintanya kepada istri, dan juga cintanya kepada anak. Sosok yang tidak ingin melihat anaknya menangis dan sengsara.

 

Nanda Choirunisaa Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos